Darimana Asal Alam Semesta?

Darimana Asal Alam Semesta?
Darimana Asal Alam Semesta?

Darimana Asal Alam Semesta? – Apakah manusia adalah sesuatu yang baru? Apakah bumi ini adalah sesuatu yang baru? Apakah kehidupan adalah sesuatu yang baru? Atau apakah kesemua-annya itu adalah barang lama? Atau ‘stok lama’ barang baru?

Sederet pertanyaan serupa diatas sering membikin para cerdik pandai dan tokoh ulama ‘tengkar’ dan saling menghujat karena sering diakhir cerita kedua kelompok saling ‘mempertahankan’ Tuhan dengan kesungguhannya dalam pemahaman masing-masing.

Perkara ini beda dengan ‘sindiran’ Gus Dur yang  mengatakan ‘Tuhan kok dibela-bela, Tuhan tidak membutuhkan pembelaan dari makhluknya’ .

Dimana bedanya?

Sindiran Gus Dur itu ditujukan kepada orang-orang yang hobbinya ribut/tengkar ketimbang mencari solusi, dan perseteruan di kalangan cerdik pandai (filsuf) dengan tokoh ulama (teologis) ditujukan kepada kebenaran akan fakta yang dibuktikan dengan argumen rasional.

Kita lihat apa yang dikatakan oleh para ulama (Mutakallimin) tentang alam di sekeliling kita. Menurut para ulama besar tempoe doeloe bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah barang baru, termasuk manusia, bumi, planet, bintang , peyek, bakwan, ikan, setan, malaikat dan lain-lain. Semua hal mulai dari yang receh sampai dengan yang terbesar seperti langit dan bumi beserta isinya adalah sesuatu yang baru…

Pendapat ini disodorkan sebagai argumen rasional dengan memberikan contoh-contoh yang paling sederhana sampai kepada contoh yang kompleks. Contoh sederhana misalnya, manusia.

Baca juga :   Filsafat dan Tasawuf

Manusia adalah barang baru karena dulu sebelum bermilyar-milyar tahun yang lalu manusia tidak ada. Dari tidak ada menjadi ada disebut sebagai sesuatu yang baru. Mobil adalah sesuatu yang baru, karena pada jaman romawi belum ada mobil. Adanya mobil saat ini berasal dari tidak ada sebelumnya.

Setan, Jin, Malaikat, Strum listrik, Nuklir, gelombang infra merah, Sinar X, juga adalah barang baru. Alasannya sama…duuuluuuu bertriliun-triliun tahun sebelum ada langit dan bumi ‘benda-benda’ inipun belum ada. Karena mereka ada dari sesuatu yang tadinya tidak ada, maka benda-benda tersebut adalah benda baru.

Pertanyaannya sekarang, kalau semua ‘benda-benda’ itu baru, baik yang phisik, metaphisik, prophisik dan yang imateri apakah ada gerangan yang tidak baru?

Tentu ada, menurut para ulama besar (Mutakallimin) yang bukan “barang baru” adalah Tuhan semata. Tuhan bukanlah barang baru karena kalau dirunut sampai kemanapun, ber milyar-milyar triliun tahun sekalipun…, Tuhan sudah ada dan tidak pernah berawal. Jadi bagi Imam Ghozali misalnya, (tokoh mutakallimin) kafirlah mereka yang mengatakan bahwa ada ‘barang’ lain yang ada sejak jaman sebelum penciptaan.

Argumen kelompok ulama ini mengatakan, kalau ada sesuatu yang ‘ada’ dan tidak pernah tidak ada selain Tuhan, maka sesuatu itu pasti tidak membutuhkan pada satu penciptaan, atau penyebab keterciptaannya.

Ini tidak mungkin karena kalau demikian adanya maka ‘sesuatu’ itu sudah menyamai Tuhan. Dan Tuhan adalah keberadaan yang niscaya secara esensi. Dalam berbagai argumen pembuktian, jelas menunjukkan hasil akhir bahwa sesuatu yang keberadaannya niscaya secara esensial adalah TUNGGAL. Jadi tidak mungkin ada 2 TUNGGAL, Tunggal dibawa kemanapun artinya tetap sama , yaitu SATU!

Baca juga :   Eksistensi dan Esensi

Argumen rasional dari kelompok ulama ini dijawab oleh para cerdik pandai (filsuf) abad pertengahan dengan mengatakan ‘Bahwa kebutuhan akan sebab dan penciptaan tidak ada kait mengkaitnya dengan apakah ‘benda’ itu  tidak pernah tidak ada, tapi lebih tergantung kepada esensi (zhat) itu sendiri. Apakah esensi  keberadaannya niscaya atau mungkin. (eksistensi niscaya atau eksistensi mungkin) .

Sebagai contoh,

Sinar matahari berasal dari matahari.
Dan sinar itu tidak mungkin bisa terpisah dari matahari.
Keberadaan sinar matahari itu tergantung 100% kepada matahari.
Dan satu hal lagi, keberadaan sinar matahari adalah pemberian dari matahari.
Sinar matahari ini akan senantiasa ada, baik kita bayangkan ataupun tidak, sinar matahari ini tidak akan pernah terlepas dari matahari.
Sinar matahari ‘ada’ sejak awal keberadaan matahari.

Disini coba kita ambil satu perumpamaan, umpamanya matahari ini tidak berpermulaan, apakah kemudian sinarnya mempunyai permulaan? Tentu tidak, Adanya matahari otomatis adanya sinar matahari.
Matahari adalah matahari, dan sinar matahari adalah sinar matahari.

Begitu pula dengan keberadaan ‘sesuatu’ yang lain yang tidak pernah berpermulaan, bukan berarti ‘sesuatu’ itu sama dengan Tuhan. Bedanya perumpamaan diatas dengan Tuhan adalah di ‘KEHENDAK DAN PERBUATANNYA’. Matahari tidak mempunyai kehendak terhadap sinarnya, tapi Tuhan mengetahui apa yang diperbuatNya.

Perumpaman seperti ini jelas ditulis dikitab suci Al-quran :

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(An-Nuur : 35 )

Sekarang kita sudah melihat dua kelompok menterjemahkan isi alam semesta ini, ulama jaman dulu mengatakan semua yang ada dialam semesta ini  adalah sesuatu yang baru dan berasal dari ketidak ada-an, dan kelompok cerdik pandai mengatakan bukan demikian, semuanya berasal dari sesuatu yang ada.
 |Darimana Asal Alam Semesta?
B E R S A M B U N G

Darimana Asal Alam Semesta?

3 komentar untuk “Darimana Asal Alam Semesta?

  1. aku rasa meninjau sesuatu itu jangan dari satu sisi saja. di dunia tidak ada sesuatu yang mutlak, kecuali tuhan dan dzatnya. apakah mungkin manuia yang notabene baru, bisa benar-benar tahu asal mula segala kejadian?….., atau adakah janji tuhan bahwa kita dengan kemampuan yang telah di berikan tuhan mampu menelusuri segala kejadian…?

  2. kalau saya melihat titik perbedaan antara hukama dan mutakallimin tentang Alam ini baru atau alam ini qadim adalah: apakah ada fatrah atau masa antara pada waktu Tuhan Ada dan Adanya alam ini.yang mengatakan tidak adanya fatrah antara keduanya adalah para hukama, sehingga mereka condong untuk mengatakan bahwa alam ini qadim. sementara yang mengatakan ada fatrah antara tuhan dan momen penciptaan makhluk pertama mereka adalah mutakallimin, hingga mereka berasumsi bahwa alam ini baru. cuma sekarang yang menjadi pertanyaan( buat mutakkalimin) adalah: kenapa tuhan tatkala dia Ada tidak langsung menciptakan alam ini? Bukankah tuhan itu Maha tahu dan maha kreatif? para mutakallimin menjawab : bahwa sejak zaman azali dan sampai momen penciptaan makhluk yang pertama Ada, Tuhan masih sendiri. menurut Muktazilah dan Karamiyyah ketiadaan makhluk sebelum momen itu adalah karena Tuhan pada waktu itu masih mustahil untuk melakukan penciptaan (mumtani’ alaih). sementara menurut Asyairah dan Kullabiyyah mengatakan bahwa: ketiadaan makhluk sebelum momen itu adalah karena Iradah azaliyah Tuhan masih mustahil mewujudkan hasilnya (mumtaniun minhu).
    jadi konsukwensi logisnya menurut muktazilah adalah: Tuhan di zaman azali belum mampu untuk mencipta lalu tiba-tiba Dia bisa mencipta pada saat penciptaan pertama. sedangkan menurut Asyairah di zaman azali iradah tuhan belum mampu mewujudkan hasil ciptaannya tiba-tiba ia bisa mewujudkan pada saat penciptaan yang pertama.
    dari kesemua argumen mutakallimin ini mereka berangkat pada sebuah kaedah: adanya sesuatu yang rajih tapi tidak ada yang merajihkannya ( tarjih bila murajjih ) kaedah inilah yang di tenarkan oleh al gazhali dalam kitabnya tahfut al falasifah.
    tetapi dari argumen para mutakallimin diatas sering dijadikan celah bagi para hukama untuk meruntuhkan pondasi ilmu kalam, yang kata para pegiatnya adalah sebagai tameng akidah islam. sehingga Ibnu taimiyah ikut berkomentar : ” fala islama nasharuhu wala adhuwwa kassaruhu” ( islam tidak berhasil mereka bela, dan musuhpun tidak berhasil mereka kalahkan )

  3. Allah ialah zat yang Agung, yang Sempurna, yang Indah mempesona. Ke-Agungan-Nya dapat dirasakan dan dilihat dari Kekuasaan-Nya, Keperkasaan-Nya, Kebenaran-Nya, Keadilan-Nya. Kesempurnaan-Nya yaitu bahwa Ia (Allah) tidak membutuhkan kepada apapun dan dari siapapun. Indah dan mempesona artinya bagi jagat raya/alam dan manusia yang mengenal-Nya akan merasakan/menimbulkan rasa Indah dan Mempesona, sepertinya bulu kuduk ini berdiri/merinding/kagum kepada-Nya sekalipun kita tidak dapat melihat-Nya, dan selalu mengingat-Nya baik dikala berdiri, duduk maupun berbaring, serta memikirkan penciptaan-Nya. Dan tidak engkau ciptakan kesemanya itu dalam kesia-siaan (Q.3:190191). Zat dan Sifat Allah itu terjewantahkan dalam Qur’an dan hadits, dan terperas dalam asmaul husna (99) dan juga dalam sifat dua puluh (20).

    Dengan demikian jelas bahwa Allah tidak perlu dibela, wong Ia itu “serba dewek”: Ada dewek, Berkuasa dewek, Gagah dewek, Sombong dewek. Tetapi kalau ada orang yang ngomong “membela Allah atau membela Agama Allah”, jangan diartikan sepertinya bahwa Allah itu lemah yang perlu dibela oleh makhluk-Nya. Orang awam mungkin akan mengartikan/kata metaforis “membela” seperti itu. Namun bagi orang khawas/khusus membela Allah maksudnya menegakkan/menerima/mengimani/menyampaikan Agama Allah,.jadi tidak sepicik apa yang dikatakan oleh Gus Dur.

    Alam ialah sesuatu apa saja “Selain Allah”. Saya (Taufik) alam; Pak Iman K. alam; si Fulan juga alam; bumi dan langit, manusia, malaikat setan; jin, surga, neraka, dunia, singkat kata selain dari-Nya (Allah) adalah alam. Selanjutnya alam itu terbagi kepada dua: 1.Alam Rohani dan 2. Alam Jasmani. Saya tidak akan membahas kedua alam ini karena secarah definisi/ta’rif sudah menjadi pengetahuan umum. Namun secara hakekatnya perlu uraian yang sangat panjang. Bagaimana halnya dengan “Lama dan Baru” yang diuraikan oleh Sdr. Iman K. Jawaban saya singkat saja sebagai berikut:
    Lantas bagaimana “alam itu”…?
    Ternyata alam ini “berubah”;
    dan setiap yang berubah itu “baru”.
    Jadi alam ini “haaadiiits” …….. alias “baaaruuu”……..

Leave a Reply

Your email address will not be published.