Pengantar Filsafat

Pengantar Filsafat
Pengantar Filsafat

Pengantar Filsafat | Pertama, yang harus jelas dalam pembahasan filsafat adalah menyamakan pemahaman tentang term dan cara membuat definisi.

CARA MEMBUAT DEFINISI

Membuat definisi bisa dilakukan dengan dua cara; yang pertama adalah dengan cara Lafzhi (verbal) dan yang kedua dengan cara Maknawi (Arti Nyata)Pendefinisan dengan cara lafzhi (verbal)  adalah cara mendefinisikan sesuatu dengan maksud menjelaskan pengertian dari kosa kata yang digunakan atau menjelaskan pengertian dari istilah yang digunakan  (linguistik). Sedangkan pendefinisian maknawi (Arti Nyata) adalah cara mendefinisikan dengan mengungkapkan makna sebenarnya (hakekat) dari ke ‘apa’ an sesuatu.

Contoh, ketika seseorang bertanya, apakah yang dimaksud dengan “merpati?”. Sering kita temui bahwa maksud dari sipenanya dapat berbeda-beda. Adakalanya maksud sipenanya adalah tentang pengertian dari kata (kosa kata) tersebut, yakni merpati itu ‘apa’ dari arti bahasa atau istilah (terminologis). Dan jawaban tentang ke ‘apa’ an merpati ini dapat dijawab dengan bermacam-macam istilah dan definisi per-bidang orang yang ditanyakan, sehingga tidak  menutup kemungkinan akan menimbulkan ‘arti’ yang banyak tentang ke ‘apa’ an merpati dari sisi terminologi. Menurut istilah ahli hewan, merpati adalah sejenis burung yang masuk kedalam katagori unggas, dan akan berbeda lagi definisi ke ‘apa’an merpati ini jika masuk kedalam kamus departemen perhubungan, maka yang disebut dengan merpati adalah sebuah pesawat terbang yang dikelola oleh sebuah maskapai penerbangan yang masuk kedalam katagori pesawat yang  berplat merah (Perusahaan pemerintah).

Baca juga :   Metafisika dan Filsafat

Dalam menjawab pertanyaan semacam itu (tentang kosakata) ada kemungkinan semua jawaban yang di kemukakan adalah benar. Dan disini dibutuhkan kejeli-an dan ketelitian kita untuk mengetahui secara jelas tentang arti dan penggunaan dari kosa kata yang  dipakai.

Jika kita akan mendefinisikan suatu hal atau akan menjelaskan ke ‘apa’ an suatu istilah yang memiliki definisi lebih dari satu, maka kita harus mengatakan bahwa ‘ke apaan’ ini menurut istilah ahli fulan ini artinya ‘ini’ dan menurut istilah ahli fulan itu artinya adalah ‘itu’. Menjelaskan ke’apa’an sesuatu dengan cara memaparkan pendapat-pendapat dari beberapa ahli-ahli yang berbeda bidang  inilah yang disebut dengan pendefinisian verbal.

Tetapi sering juga kita menanyakan ‘ke apa-an’ sesuatu  BUKAN  bermaksud untuk mempertanyakan arti dari kosa kata yang digunakan melainkan  tentang Hakekat (Arti Nyata) dan makna sebenarnya dari susuatu itu. Misalnya ketika kita bertanya, apakah yang disebut dengan ‘Nabi’, tentu yang kita tanyakan  bukanlah tentang arti dari kata nabi diletakkan untuk apa? Karena kita semua sudah tahu bahwa kata nabi diletakkan dan diperuntukkan untuk manusia dengan syarat dan ketentuan yang khusus, bukan kepada yang lainnya semisal kepada tumbuh-tumbuhan atau hewan.

Pertanyaan tentang ‘ hakikat dan substansi’ dari nabi tadi misalnya, jawaban subtansi terhadap ini hanya satu, tidak boleh lebih dan tidak mungkin semua jawaban tentang pertanyaan ini adalah benar. Jawaban untuk menjawab pertanyaan semacam inilah yang disebut dengan pendefinisian Arti Nyata (Maknawi/Hakiki)

Baca juga :   Darimana Asal Alam Semesta?

Untuk menelaah suatu perkara, maka kedua cara pendefinisian ini haruslah digunakan secara berurutan dan hirarkis. Jika tidak demikian maka akan terjadi bias makna (paralogisme) antara maksud dan tujuan sipenanya dengan hakekat yang sebenarnya. Dalam hal ini mencari arti dari kosa kata yang akan digunakan (pendefinisian Verbal)  haruslah lebih didahulukan, setelah jelas dan teliti dalam penggunaan kosa kata tersebut barulah kita bisa mencari tahu makna hakikinya ( Arti Nyatanya) .

Urutan tentang tata cara pendefinisian ini sungguh penting dan strategis dalam mencari dan menggali substansi dari suatu perkara, cara berurutan seperti ini bisa menghindari perselisihan yang tidak perlu. Karena jika tidak demikian maka bisa dibayangkan betapa rumitnya dan repotnya kita mencari tahu tentang arti sebuah ‘kata’. Jika saja masing-masing pihak mendefinisikan arti ‘kata’ dengan bermacam-macam istilah dan bahasa yang sesuai dengan bidangnya, maka besar kemungkinan orang yang terakhir menemui ‘kata’ tersebut akan lebih banyak berselisih ketimbang mengerti.

Misal, suatu hari orang yang menciptakan istilah ‘keseluruhan’ yang berarti adalah semua dan bukan sebagian ataupun terbagi-bagi. Makna yang sebenarnya tentang ‘keseluruhan’ ini bisa menjadi bias kalau setiap orang mendefinisikannya sesuai dengan bidang dan keahliannya dimasa berikutnya, apalagi jika sudah di terjemahkan kedalam bahasa asing yang beraneka ragam, bisa jadi arti ‘keseluruhan’  akan menjadi sebagian (yang pertama hilang kata ‘bukan’ -nya). Jika peneliti berikutnya mengabaikan pentingnya urutan cara pendefinisian, bisa jadi dia tidak akan memperhatikan lagi istilah ‘ keseluruhan’ sebagai acuan dari  persoalan yang dihadapi dan langsung menggunakan istilah ‘sebagian’ sebagai kata ganti ‘keseluruhan’ . Sehingga orang terakhir yang bukan peneliti dan ahli ketika menemui istilah ‘keseluruhan’ langsung saja beranggapan bahwa ‘keseluruhan’ sama dengan ‘sebagian’.

Baca juga :   Alam Materi

Begitu pula dengan kata ‘filsafat’ , banyak terjadi kekeliruan umum tentangnya diantara para filsuf barat dan para pengikutnya di Timur. Kita bisa mulai bahasan ini dengan kekeliruan awal dan ‘keluwesan’ yang tidak perlu yang di ajukan oleh para filsuf belakangan ini. Keluwesan yang tidak perlu ini berawal dari cara pendefinisian kata ‘filsafat’ itu sendiri.

# Pengantar Filsafat – posted at www.imankha.com
   Pengantar Filsafat tentang definisi dan cara membuat definisi

10 komentar untuk “Pengantar Filsafat

  1. sebenarnya td ada filsafat islam, filsafat itu bukan islam,coba apa yg di katakan dinda itu jika benar?….(klu bg qw filasafat tu kt2 bjk dr orang bijak yg mengerti tentang arti kebijakkan,yg berfikir dg cr bijak,dan melakukan suatu hal dg bijak)…….. tentunya yg di katakan mahasiswa IAIN sunan gunug jati benar, mereka mengatakan di kampus IAIN itu; Selamat datang di zona bebas TUHAN,…AJINGHUAKBAR, inilah hasil didikan filsafat.

  2. FILSAFAT ? Setelah orang cukup makan-minum dan hangat berpakaian, meneduh di bangunan ( rumah, walau gubug atau saung sekalipun.)Barrulah orang “berfilsafat” Orang yang sedang susah payah kerja menggunakan otot, narik becak, nyangkul disawah, menjajakan makanan ( vendor) tak sempat berfilsafat. JADI, filsafat itu terutama untuk orang yang sudah BERES urusan keperluan lahiriahnya.sudah bisa hidup SANTAI. Orang Indonesia yang kebanyakan masih bingung karena harga sembako terus meningkat, cari kerja susah…. lhaa boro-boro berFILSAFAT. Aduuh berfilsafat itu termasuk hal yang “luxurious.”
    Kecuali filsafat ” gombal-gombalan”: alias ” debat kusir” dan “main ngotot-ngototan pendapat.” akhirnya cuma diteruskan dengan kampleng-kamplengan dan tawuran. Itulah kenyataan yang kita hadapi sekarang. Orang-orang yang masih diTRAF seperti itu, lalu menjadi korban omongan para DEMAGOG, … mereka diHIMPUN menjadi massa pengikut dari sang DEMAGOG lalu dijuruskan kelembah kenisthaan sampai “kebinasaan” Tetapi ‘ matpeci atau failusuuf” yang berperi kemnusiaan dan menginginkan masyarakat dimuka bumi hidup DAMAI dan MAKNUR tidak menghasut untuk main TAWURAN melainkan berlomba dalam berbuat kebajikan . Kaji s. al Baqarah Q.S. 2: 148. dan ayat 256 ” kebebasan berAGAMA” Lhoo gitusaja dulu, nanti disambung lagi. :” Semoga semua titahnya Gusti Allah bahagia semua.”

  3. Filsafat i2 adlah satu hal yg sngt menarik,karena orng yg mengerti filsafat adlah orang yg mengetahui jati dirinya,sdngkn orng yg memahami jati dirinnya sungguh dekat dgn gusti AllAH,semoga qt trmsk pd orng2 yg d mksd,amien

  4. filsafat itu sebetulnya selalu mengikuti terus dalam proses kehidupan, cuma kadang kita banyak tidak menyadari, seperti pada saat kita kenapa tahu2 kepanasan di bawah terik matahari,kemudian mencari tempat teduh, alat2 bantu agar tidak kepanasan. filsafat adalah intisari segala sesuatu yang luas, walaupun intisari itu juga dijabarkan detil secara luas juga.tapi filsafat banyak membantu proses kehidupan umat manusia, mengetahui arah tentang sesuatu proses yang terjadi dalam kehidupan manusia.dalam berbagai bidang kehidupan filsafat selalu ada. Jadi filsafatlah yang selalu menelanjangi kehidupan manusia dengan segala macam aktifitasnya.Tidak harus exlusif untuk berfilsafat, tidak harus bebas dari finansial untuk berfilsafat, siapa saja yang menyadari arah suatu aktifitas, mereka sudah mulai masuk di gerbang filsafat.dan kajian filsafat ini seperti layaknya laut, ada yang dangkal dan yang cukup dalam dan belum terukur.Yang jelas dengan berfilsafat kita telanjangi diri sendiri dulu baru menelanjangi dunia.dan filsafat akan lebih membantu kehidupan manusia.( menelanjangi=mengupas tuntas )

Leave a Reply

Your email address will not be published.