Menghadirkan Tuhan Menghilangkan Aku

Menghadirkan Tuhan
Menghadirkan Tuhan

Menghadirkan Tuhan Menghilangkan Aku  – Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan “hilangnya Tuhan” demi kemajuan dunia.

Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta “jam” itu, maka Dia dianggap nganggur. Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan?

Adalah Muhammad Bagir MA, yang mengritik paradigma ini. Melalui filsafat perenial, sebuah disiplin keilmuan yang menggabungkan antara rasionalitas filosofis dengan dimensi irfani dari tasawuf, ia mencoba mengklarifikasi salah paham akal modern, yang menciptakan degradasi makna berpikir, dari intelek (akal batin), kepada reason (rasio). Baginya, pemisahan antara akal dan jiwa inilah yang membuat manusia modern, menjadi tuhan-tuhan kecil diatas bumi, yang sayangnya tak mampu melepaskan diri dari jerat samsara (kesengsaraan), akibat kedunguan spiritualitas, dan arogansi egoisme. Meminjam Lukacs, manusia modern tengah mengalami transcendental homelessness : hilangnya hubungan harmonis dan keterkaitan batiniyah dengan dunia. Orang tidak lagi menemukan makna dan tujuan hidup, justru ketika berbagai alat kemanusiaan telah dikuasai.

Dalam Kristen, the word (kalimat) itu mendaging, meat, flesh. Antropomorfisme. Maknanya, Tuhan turun dalam form manusia. Ketika Tuhan turun dalam form manusia, sepertinya Tuhan merasakan kesengsaraan manusia. Dia mau menunjukkan, bahwa Aku dalam form manusia bisa menyelamatkan kalian dari kesengsaraan. Tuhan berkata, bahwa ketika manusia terhubung dengan Aku, mereka bisa selamat, salvation. Sementara dalam Islam memahaminya sebagai teo-morfisme, bukan antropomorfisme. Tuhan tidak “mendaging” dalam manusia, tetapi manusia melangit. Jadi teo-morfisme merupakan tajalli Tuhan. Perbedaannya ada tapi tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Disini manusia jadi tajalli-nya Tuhan. Berarti manusia jadi refleksi. Dan ketika manusia menjadi tajalli Tuhan, dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Jadi dalam Islam, manusia bisa menghilangkan individualisme untuk mencapai pada the divine (ketuhanan).

Apa Kaitannya dengan Individualisme?

Semua suffering, masalah dunia di hidup kita adalah karena individualitas kita. Karena kita mengakui “aku”, dalam Buddhism juga begitu. Kalau aku-nya hilang, ya nggak akan ada masalah. Misalnya kalau kita bawa dalam preposisi: ada subjek ada predikat. Predikat bisa gembira, sedih, aku sedih, aku gembira, aku stress. Coba kalau subjek (aku) -nya hilang, nggak ada apa-apa lagi kan? Kita boleh saja sedih, sakit, tetapi karena “aku” tak ada, maka tak ada yang merasakan segala kesakitan itu.

Baca juga :   Wanita Galau Awas Jadi Korban

Nah disini bedanya ilmu akhlak dan metafisik. Misalnya, akhlak takabur. Dalam ilmu akhlak dijelaskan, definisi takabur itu apa, efek yang akan merusak jiwa kita gimana? Jadi kita harus gantikan pada predikat yang positif. Disini ilmu akhlak lebih konsentrasi pada predikat. Tapi selagi ada subjek, maka akan tetap ada predikat. Sementara irfan dan tasawuf konsentrasi pada subjek. Ketika subjek hilang, Subjek dengan “S” besar muncul. Aku (Ana) yang besar, maka predikat-predikatnya muncul, Asmaul husna nya akan muncul . Itu namanya tajalli. Dengan cara itu manusia selamat dari segala kesengsaraan dalam kehidupan individualisnya.

Ilmu yang kita pelajari selama ini ada dua macam. Pertama accumulatif knowledge, dan yang kedua adalah annihilatif knowledge. Semakin banyak kita mencari ilmu maka akan ter-akumulasilah ilmu kita. Ketika terjadi akumulasi, maka harus ada subjek, dan subjek ini mengakumulasi knowledge. Jadilah Aku ‘alim’, aku ‘mengetahui’, aku ‘lebih pintar’ dan seterusnya.

Tetapi annihilation, atau nihilasi (fana’) tujuannya adalah untuk menghilangkan subjek. Misalnya, laa ilaahaillallah, tiada Tuhan selain Allah. Kenapa? Karena Dia mutlak. Sesuatu yang mutlak, jelas tidak terbatas. Sesuatu yang tidak terbatas, tidak mengizinkan dua realitas. Ketika dia terbatas, pasti ada yang lain. Jadi konsep tauhid juga berkata seperti itu. Tidak ada realitas, selain Dia menghilang semuanya. Kalau hilang subjek ya sudah. Kita akan melihat seluruh alam ini dengan kaca mata Dia, bukan kaca mata individualis lagi. Jadi kalau ada masalah, kita akan sering lari darinya, dan masuk masalahlah yang lain lagi. Yang harus kita lakukan seharusnya beyond, melampaui.

Perbedaan Fungsional antara Reason (Rasio) dengan Intelek (qalbu)

Reason itu berada di wilayah ilmu hushuli, konseptual. Ilmu konseptual itu sendiri sebenarnya adalah produksi manusia. Sementara intelek adalah ilmu hudhuri, dimana subjek dan objek tidak terpisah. Antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak pernah terpisah. Dia menyatu. Seperti, saya sadar dengan diri saya sendiri. Aku tahu aku. Aku subjek dan aku juga sekaligus objek. Demikian juga, aku lapar. Lapar itu satu objek dan sekaligus subjek pengetahuan pada diri kita. Lapar itu bukan berada diluar diri, tetapi didalam diri saya sendiri. Bukan identitas saya juga, tetapi sebagian dari aspek saya.

Maulana Rumi menggambarkan perbedaan itu dengan mengibaratkan ada kompetisi melukis, menggambar taman bunga. Satu group minta kanvas, kuas, dan cat yang paling bagus. Sementara group lain hanya minta cermin. Setelah jadi dilihat, oh ini lukisannya bagus, lukisan di kanvas, persis seperti taman, tapi cuma satu dimensi saja. Sementara cermin kan refleksi, oh ini persis sekali. Nah, kalau filsuf itu melukis realitas, dengan konsep, ide dan pemahamannya. Kalau seorang ‘arif, realitas dimasukkan dalam hatinya, cermin itu qalbu-nya. Realitasnya ada didalam cermin, jadi tidak terpisah dari dia. Makanya dalam hadist, “Bumi tidak bisa menempatkan Aku, langit juga tidak bisa, kecuali qalbu mu’min”. Nah dimana kita menempatkan Tuhan yang tidak terbatas? Dengan merefleksikan Dia tentunya.

Baca juga :   Irfan dan Tasawuf dari Sudut Pandang Akademis dan Sosial

Cermin itu Didalam Diri Manusia?

Qalbu itu cermin. Allah ada disitu. Qalbu kan divine, bukan human. Gimana qalbu bisa menempatkan Tuhan yang tidak terbatas, kecuali kalau qalbu itu sendiri adalah Tuhan. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, maksudnya ya Tuhan yang mengenal diri-Nya sendiri. Nggak mungkin manusia kenal Tuhan. Jadi Tuhan itu mengenal diri-Nya sendiri.

Intelek seperti itu. Kalau ilmu hushuli kan konsep, melukis realitas. Kalau ilmu hudhuri, kita masukkan realitas dalam hati. Kalau kita melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Nabi melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Jadi Nabi setiap ada permasalahan selalu bertanya kepada Allah, itu bahasa teologisnya. Tetapi sebenarnya, Aku adalah Dia. Jadi bukan politik humanis lagi, tapi politik divine. Disini filsafat perennial, tasawuf, atau irfan, mau menghidupkan divinity (ketuhanan) dalam diri manusia. Ketika Tuhan hadir, alaa bi dzikrillahi tathmainnul qulub. Salah satu nama Tuhanpun al-Mu’min, Yang Memberi Keamanan. Jadi ketika Dia hadir, Dia akan memberi keamanan pada semunya. Ada hadist, al-mu’min miratul mu’min (mukmin adalah cermin bagi mukmin). Disini yang bercermin bukan antara dua manusia mukmin, tetapi antara mukmin manusia dengan al-Mukmin (Tuhan).

Dalam al-Qur’an ada ayat tentang Nabi Muhammad, innama ana basyarun mistlukum (Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian). Disini jelas bahwa Muhammad itu seperti manusia, seperti kalian, mistlukum. Seperti, jadi sebenarnya bukan persis manusia. Lalu kalau begitu, Muhammad itu apa?”

Maksudnya?

Tuhan mau menyelamatkan manusia di bumi ini. Tetapi kalau Tuhan menurunkan manusia, sama saja kualitas dam kharakternya. Jadi nggak bakal selamat. Maka yang harus membimbing manusia itu harus Aku, kata Tuhan. Makanya Aku akan jadikan manusia, khalifah: cermin Aku sendiri. Jadi Tuhan, mau membimbing manusia tanpa meninggalkan langit, caranya bagaimana? Bahasa simbolisnya. Kalau Tuhan turun, langit kosong dong. Di al-Qur’an dikatakan, fi al-samaai Ilaahun fi al-ardli Ilaahun (di langit Tuhan, di bumi Tuhan). Satu cara untuk Tuhan turun ke bumi, tanpa meninggalkan langit itu, taruh cermin dibawah, namanya khalifatullah. Dia sendiri yang datang. Al-Haadi, Yang Memberi Petunjuk.

Al-Ghazali berkata, bahwa pencarian kebenaran tidak hanya melalui rasio, tetapi juga eksperimental ruhaniyah. Apakah seperti itu?

Mereka yang belum menyadari kehadiran intelek, paling tidak memiliki panca indera, dan rasio. Indera kita gunakan untuk melihat, afalaa tadabbarun, kamu lihat langit dan bumi, dan kamu kontemplasi. Rasio untuk berpikir. Sementara proses pemikiran kan berada dibawah bimbingan wahyu, dari Dia juga. Jadi tidak terputus dari Tuhan. Nah kita gunakan semua ini, untuk diarahkan pada kesadaran intelektus tadi. Ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.

Baca juga :   Menolak Kebenaran sama dengan Kafir!

Pertama, kita harus menempatkan diri kita dalam ruang agama. Tidak mungkin diluar agama. Sekarang di Barat ada yang nggak pakai agama, spiritual universal. Kata mereka, kalau sudah terikat oleh agama, maka tidak universal lagi. Padahal kalau kita terikat pada satu agama, kita makin universal. Karena tidak mungkin ada universal tanpa partikular. Contoh. Orang bilang kalau sudah ada batin, nggak butuh dhahir lagi. Bisa nggak saya bilang, saya kenal atas, tapi bawah saya nggak tahu? Nggak bisa kan. Kenal atas karena kenal bawah. Dhahir itu ada, karena ada batin kan, demikian sebaliknya. Nah, dalam agama ada jalan esoteris, jalan yang menghubungan manusia dengan al-Haq. Manusia harus ikut jalan itu. Itu syarat yang berada diluar diri manusia.

Kedua, cara yang ada dalam diri manusia. Yakni himmah (aspirasi yang tinggi). Kata Syeh Ahmad Mustafa al-Alawy, dalam buku Sufi Abad ke-20 (Mizan), syarat minimal jika manusia ingin menuju Tuhan adalah himmah, aspirasi yang tinggi untuk mendekatkan diri pada-Nya. Misal, dalam satu tempat yang gelap, maka satu lubang cahaya yang dikit saja, itu sudah cukup. Kalau nggak ada lubang, semua tertutup, kita nggak bisa melampaui ruang yang gelap.

Kata hadist Qudsy, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta“.

Ya. Ketika ada aspirasi baru ada respon, Jadi adzkuruunii adzkurukum, jika kau mengingat Aku, maka Aku pun mengingatmu. Setelah himmah, maka harus ada iman. Iman kepada agama. Agama terbentuk dari wahyu, dan wahyu sebenarnya manifestasi dari Dia, jadi iman kepada Dia sebenarnya. Ini yang subjektif, himmah dan iman. Sementara yang objektif tadi, agama dan jalan dalam agama. Seorang sufi berkata, “Dari Tuhan kepada manusia ada jalannya. Tapi dari manusia ke Tuhan, nggak ada jalannya”. Jadi kalau ada orang tenggelam, yang melempar tali itu siapa? Orang yang dikapal atau yang tenggelam? Jadi jalan dari kapal ke laut ada, tapi kalau sebaliknya tidak ada. Oleh karena itu syariat dari Tuhan, bukan manusia yang membuat syariat. Jalan thariqah pun harus dari Tuhan. Karena kita kan berada di luar, mau kedalam. Apa kita buat jalan sendiri? Nggak mungkin. Itu yang saya maksudkan, agama harus ada “jalan kedalam”, dari batin agama itu sendiri.

=======================

 

^o^ Menghadirkan Tuhan Menghilangkan Aku Diantara Akal Modern

27 komentar untuk “Menghadirkan Tuhan Menghilangkan Aku

  1. sebelum ente masuk lebih dalam ke filsafat…
    ente sebaiknya baca2 dulu artikel tentang teori berfikir, biar gak kebablasen ato menjagi kafir karna salah tafsir….
    ingat bahwa kita adalah sesosok mahluk yang dikendalikan oleh sang pengendali….

  2. Bang Nidhal Ms pemahaman itu bukan hanya bisa didapat melalui akal Abang. Kalau bisa hebat kali akal kita ini. Cobalah diraba melalui hati Abang. Bila perlu carilah penuntun hati yang Abang yakini bisa menunjukan jalan terang bagi Abang demi dapat memahami pemahaman yang tidak masuk akal Abang.
    Insya Allah apabila hati Abang telah disiapkan untuk memahami dan Abang bersedia melakukan “tuntunan” dari akhlinya Abang akan dapatkan petunjuk dan hidayahNya.
    Niatkan dan upayakan hati Abang agar berkeinginan untuk memahami yang belum Abang pahami itu melalui hati Abang. Apabila hati Abang tidak disiapkan untuk memahami atau hati Abang masih dalam posisi sebaliknya maka akan sulit sekali Abang bisa meraih pemahaman.
    Ingat pendapat yang belum kita pahami itu dan kita salahkan itu belum tentu nanti di hari akhir salah dihadapan Tuhan (hadist Nabi). Hindarkan diri kita membabibuta bertahan habis-habisan sekedar untuk mengikuti nafsu diri demi mempertahankan kebenaran yang kita yakini yang padahal belum tentu benar di hadapanNya.
    Bang, bolehlah aku bertanya apakah benar Tuhan itu bersemayam di tempat “khusus” umpamanya di atas langit sana atau di dalam hati ini sebagaimana pemahaman sejumlah ulama.
    Bila jawabanya Dia tidak berada di tempat (ruang) khusus maka dimanakah atuh Tuhan kita itu adanya ?

    Wasalam

  3. jangan lupa yang terbatas tak dapat memuat yang tak terbatas, yang terbatas yaitu semesta alam(alam manusia=bumi beserta langitnya,alam ghaib=alam jin,alam malaikat dsr), yang tak terbatas dialah Yang ESA.

  4. Bismillah,

    Usiykum wa nafsi bi takwaAllah Ajawazala.

    Kembalilah kalian kepada Kitabullah wa Sunnaturasul wa fahmi Salaf.
    yang Allah telah ridho terhadap mereka,

    sebelum ilmu kalian ini menjadi sebab penyesalan bagi diri – diri kalian.

    Wasalam
    Bambang

  5. menghilangkan aku menghadirkan tuhan, enak aja semua…emang bisa menghadirkan tuhan kalo tuhan menghadirkan atau mengadakan semuanya bisa. tapi hamba mau menghadirkan tuhan terlalu sombong namanya….apa sudah pernah melihat tuhan…??? bertemu aja belum apa lagi kenal…??? Hati-hati mengaku kafir tidak mengakui juga kafir… he…he…mohon maaf sebelumnya dilarang marah atau tersinggung..brow.
    cuman sekedar penasaran neh…ikut nimbrung aja…piece…!!!!

  6. Ulasan kecil utk tetangga…

    Untuk apa membanggakan/mempertunjukan sebuah benih yg baru km tanam kemaren sore?… Penjelasan apapun kepada mereka tentang benih itu’ bahwa nantinya akan menghasikan buah yg manis. Apa mereka akan percaya begitu saja?… Tentu tidak. Karena bagi mereka yang terlihat hanya sebuah pot, Paham?. Tetapi, apa bila km berusaha dengan sabar merawat & menjaga benih itu dng baik, niscaya mereka akan tau dengan sendirinya… klau dirumah mu itu ada pohon rindang yg berbuah dengan baik.

    ” Buta di Dunia, buta pula di akherat ”

    Wassalam…

  7. Untuk rekan para pemikir dengan ahlinya.
    Saya ini mualaf , yang baru belajar mengenal wajah , jika diantara tuan ada yang dapat memberi penjelasan praktis mengenal wajah saya sangat senang , karena saya akan bersegera melihat wajah yang saya cari ketika saya menghadapkan wajah saya.

    trimakasih,
    slamat hari raya idulfitri 1430H.

  8. menurut saya yang bodoh kang admin ada benernya masalahnya karena diungkapkan itu yang jadi masalah karena pemahaman setiap orang akan beda, mestinya hal hal seperti ini hanya dibicarakan dengan sang guru karena ketika kita akan “menghilangkan aku menghadirkan Tuhan” dan diungkapkan sepertinya akan sama ceritanya dengan cerita syekh siti jenar. demikian pendapat saya, walaupun saya sendiri juga bingung bagaimana cara kita menemui Tuhan karena kalo kita nga bisa menemui di dunia bagaimana mungkin Tuhan mengenal kita?

  9. Saya ingin bertanya di artikel tu kan diblg klo pd islm sifatnya teo-morfisme [manusia melangit] dan manusia menjadi tajallinya Tuhan

    1) bagaiman manusia bisa mnjadi tajalliny Tuhan sedngkan manusia itu penuh dosa? Tuhan kan pribadi yang sangat MULIA bgmn manusia bis merefleksikannya?

    2) di artikel tu jg ditulis “Seolah-olah Tuhan itu di barat, dan dunia di timur ya. Kalau ke barat ya harus ninggalin timur?”
    tp knp klo pengrtian dlm islm yg anda tulis dlm artkl ni klo TUHAN turun ke dunia manusia mk surga jd kosong ?
    bukankah TUHAN itu ada dimana-mana?

    TRIMA KASIH

  10. masalah di atas memang rumit,judulnya aja udah rumit,menghilangkan aku menghadirkan tuhan,wkwkwkwwk.yang ada mah,menghilangkan aku Insya Allah Tuhan hadir,(becanda pak bagir)
    sebenarnya masalah seperti ini tidak perlu di kupas di milis ini,karena akan jadi perdebatan yang tidak kunjung selesai,karena masing-masing membahas dengan apa yang mereka punya(basic Ilmu),kalau mau bahas lepas dulu semuanya.dan yang pasti kalau mau dapat jawabannya,coba dulu apa yang dimaksud dengan Pak Bagir mengenai menghilangkan aku menghadirkan tuhan.jangan langsung skeptis terhadap suatu pendapat,contohnya gini,saya minum kopi anda tau tidak rasanya kopi yang saya minum?(bisa pahit bisa manis,bisa juga tawar)he,,,he….Tentu tidak kan?supaya tahu,minum kopi saya?maka anda akan tahu!ilmu ini bukan ilmu lisan tapi praktek,kalau kita menjelaskan dengan lisan sampai kiamat pun tidak akan paham.mau paham datangi pak Bagir. untuk diajari menghilangkan aku menghadirkan Tuhan, Insya Allah kamu tahu maksud beliau.
    wassalam

  11. Sepertinya ini yang saya cari…. Ijin copy ya…Mas ! Sedikit komen…. Jangan jauh-jauh dulu jika ingin mengenal wajah Tuhanmu….Ingat/renugkan dulu…
    1). Allah telah meniupkan Ruh-Nya kepada kita (Kapan Ya ?)… Sudahkah kita mengenal Ruh itu…?
    2). Sudahkah kita memahami wujud kehendak-Nya..?
    3). Seberapa dekatkah kita pada-Nya…?
    ……… dst

  12. Hai orang-orang yang beriman,jauhilah kebanyakan prasangka,karena sebagian dari prasangka itu dosa.Dan janganlah mencari-cari keburukan orang danjanganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang sukamemakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijikkepadanya. Dan bertakw…alah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubatlagi Maha Penyayang.(QS Al-Hujurat:12)

  13. Seandainya manusia mengenal apa sebenarnya hidup, maka tidak ada lagi kehidupan senjang, mencela, menghina maupun mempermasalahkan agama. (kata orang)

    dalam urusan kemanunggalan kurang bijak jika dibahas dalam forum karena akan menimbulkan kontraversi keyakinan dan dapat mamicu perselisihan. namun dalam kehidupan masyarakat sangatlah sulit mencari orang yang mau bisa diajak diskusi masalah seperti ini.

    Saya sendiri bingung tentang wajah sejati, bagaimana saya berkata “SAYA BERSAKSI…..”, jika yang saya saksikan hanya refleksi, dan saat ini saya masih binggung tentang siapa, dimana, dan untuk apa aku ada.

  14. Sebetulnya udah Bagus, penalarannya.So hati2 bkn bingung orang lain,mungkin mereka blm bisa menyingkap hijab2 tsb.Tetapi bagiku Aku adalah Aku, Tuhan adalah Tuhan, Anda adalah Anda,Kalian adalah kalian, dan kita semua dlm persinggahan untuk menuju kepada-Nya,kepd Aku-ku, Aku-Anda,Aku-kalian.

  15. gitu aja kok repot….hal tersebut hanya proses perenungan untuk mencapai keihklasan yg sebenar-benarnya atau bisa juga dikatakan puncak/batas pemikian manusia untuk mengenal dirinya sendiri dengan catatan harus dilandasi dengan DZIKIRULLAH….

    kalau gak salah hal tersebut adalah sejarah syeh abdulkadir jaelani….

  16. Kepada para pemikir dalam blog ini…. semestinya kalian tidak perlu membahas ‘filsafat’ secara murni jika kalian masih terpengaruh soal keimanan atau yang transenden. Anda harus membedakan ilmu filsafat sebagai rangkaian ilmu dari epistemologi dengan kosmologi dan ilmu ketuhanan dalam bahasan ilmu ontologi. Dengan demikian kalian tidak tersesat dalam kerangka akal sehat dan atau pikiran anda yang sempit dan terbatas. Sebagai contoh… apakah kalian dapat menjelaskan bagaimana mungkin ide/atau pikiran anda yang terbatas itu bisa memahami keberadaan Allah yang tak terbatas? Tentu dalam bahasan ini filsafat sebagai ilmu dan atau hasil dari rangkaian ide-ide terbatas anda tidak akan mampu menjelaskan dengan tuntas… Disinilah dibutukan kepasrahan akan ketakberdayaan kita untuk menerima paham ketuhanan dalam konteks ilmu ontologi yang diamini oleh iman masing-masing pribadi dari kita. Maka itu saya sarankan agar hati-hati menjelaskan ilmu-ilmu filsafat dan sejenisnya bagi publik agar tidak salah kapra pemahamannya, alias tidak membuat para pembaca blog ini tersesat dalam pemahaman ide kodrati dan adikotrati. Selamat berpikir.

  17. permisi bapak-bapak

    menurut saya ini adalah forum umum,

    karna ini ilmu bukan untuk d bicarakan, tapi di amalkan…..?

    kalow sudh mengetahui apa sebenar nya, tong kosong tidak akan berbunyi lagi.

    klow masih kosong semua tong akan ingin mengeluarkan bunyi nya masing-masing dan tak berujung, sebelum di isi….?

    jadi kalau masing-masing bapak udah merasa benar milik bapa masing-masing lebih baik di tutup dulu pembicaraan ini, buka tema lain.

    sebelum dan sesudah nya saya minta maaf kalau saya ada salah, saya hanya di perintahkan untuk memberiahukan ini semua.

    terimakasih bapak-bapak sekalian

    wasalam

    The Dark Star {1991}

  18. assalamua’alaikum.

    sebaiknya posting yang beginian janganlah sampai di publikasikan…karna hidupmu akan terancam bagi mereka yang tidak tahu.

    saya teringat akan cerita dari mursid saya.
    beliau mengatakan “dulu ada seorang sahabat Nabi yang bertanya kepada sahabat yang lainnya. apakah ada yang ilmu lain yg di ajarkan oleh Nabi kpd mu” lalu sahabat tsb menjawab…jika aku katakan kpd mu pasti engkau akan membunuhku.

    dan saya juga teringatkan akan kisah syeh siti jenar.

    wahai sahabatku aku tidaklah menyalahkan atas hal tsb di atas.
    yang aku ingin sampaikan bahwa hal tsb sangatlah berbahaya untukmu dan kaum awam
    di karena masih banyak orang2 yang tidak mengerti akan hal tsb dan cenderung menyesatkan.

    karna ‘aqli mereka tidak dapat menjangkaunya,
    ilmu seperti di atas bukan untuk di publikasikan
    karna ia membatalkan syariat yang ada
    cukuplah kamu mengetahuinya dan menjadi ilmu untuk.

  19. Benar apa yang kamu katakan AL,.,
    ini tidak harus dipublikasikan begitu juga ini adalah ilmu yang tidak harus diperdebatkan atau pun dibicarakan tapi di amalkan,.,

    apabila kamu mengetahui lebih baik diam kuncinya..
    jadilah seperti orang yang bodoh,..,
    ini tidak akan habisnya kalo kalian membahas,,kalau kalian merasa pintar dengan pendapat-pendapat masing-masing,..,

  20. Benar apa yang kamu katakan AL,.,
    ini tidak harus dipublikasikan begitu juga ini adalah ilmu yang tidak harus diperdebatkan atau pun dibicarakan tapi di amalkan,.,

    apabila kamu mengetahui lebih baik diam kuncinya..
    jadilah seperti orang yang bodoh,..,
    ini tidak akan habisnya kalo kalian membahas,,kalau kalian merasa pintar dengan pendapat-pendapat masing-masing,..,

  21. bagaimana dengan surga dan neraka?
    surga dan neraka tidak abadi
    karena hanya yang abadi adalah sang penciptanya sendiri

  22. Yaaaa… kalau “AKU” sudah tidak hadir ( lenyap?), mana ada tanggapan…. mana orang yang sudah tidak ada lagi TAHU bahwa Tuhan hadir? Kan kehadiran.. orang hidup itu dasarnya kesadarn. Sadar dan bisa, mampu menganggapi adanya sesuatu, termasuk hadirnya Tuhan.dan hadirnya diri-sendiri dan orang-orang lain dan segalanya?Jadi omongan :” menghilangkan Aku, menghadirkan Tuhan.” tiu apa artinya?
    Aku hadir, mulai dari bayi tidak tahu apa-apa, kemudian tahu dikit-semi sedikit terakumulasi, selama beberapa tahun. Taruh kata 100 ( seratus tahun) apakah artinya 100 tahun dibanding dengan usia jagat-raya yang tidak kita ketahu awal-akhirnya , ujung-pangkalnya. Jadi ya marilah kita ber-omong-omongan sepuasnya sebelum MATI. Tidak mengapa… omong benar atau omong nggeladrah sama saja. Akkhirnya toh : ” Innalillahi wa innaillaihi rooji’uun Q.S. 2: 156. dan Q.S. 2: 157 menyatakan bahwa itulah orang yang mendapat ampunan dan petunjuk, … dari Allah s.w.t. Q.S. 39: 37. Sedang petunjuk dari kata orang sesama kita walau disepakati orang buanyaak itu BOHONG BELAKA Q.S. 6: 116. ( Vox Populi BUKAN Vox Dei.) Tak ada orang yang benar semua omong kosong , mulutnya mengangan seperti kuburan. Yang mengajari “jangan mencuri”, dia sendiri mencuri. Yang mengajari “jangan berzinah, jangan main kotor alias KORUPSI, eee dia sendiri korupsi. Lhooo bagaimana? Ya sudaaaag, mau apa lagi? Pokoknya O.K. lah orang yang memahami dan menghayati kata :”Innalillahi wa innaillaihi roji’uun” itu. MERDEKAAAAAAAAAA. Berlomba saja dalam berbuat KEBAJIKAN, untuk diri sendiri dan orang lain, jangan malah menjadi PENGACAU fikiran orang banyak dan Pengacau Keamanan masyarakat alis menjadi TERORIST. Itu sja laaah.
    Dan tinggalkan “perminan agama-agamaan” Q.S. 6: 70. Tidak usah ikut-ikutan LATAH masuk kerumah ibadat apa saja, karena tubuh kita masing-masing adalah ” BA’IT ALLAJ.” Orangorang-orang LATAH itu sungguh mendustakan “kitab-kitab suci samawi” Q.S. 43: 39, 78 dan akan mengunjungi NERAKA Q.S. 19: 21. Sungguh al Quran kalai dikaji secara intesif, diprolifikasi dan diproliverasikan akan menjaji lebih DAHSYAT dari bom nuklir, akan menghancurkan GUNUNG KEDEGILAN dari para pembohong, mulu-besar dan tukang bikin AQIDAH ( penyebar, peniup UQOD Q.S. 113: 4,5.) Fahami makna Q.S. 59: 21. Dan… penelihara dan pemegang al Quran yang sudah diolah seperti mengolah uranium itu akan keluar menjadi PEMENAG terakhir dalam kancah keributan dunia yang sampai sekarang semakin meningkat, samai pada waktunya “bom al qur’an ” itu akan menundukkan segala aqidah, kapitalisme, sosialisme, fascisme dan isme-isme lainnya yang ditonjol-tonjolkan oleh pakar-pakar aqidah dan aturan ritual yang sampai sekarang membelenggu akal-budi-dan nurani manusia. Janji Allah tak akan diingkari… agama ISLAM yang murni akan diterima umat manusia sebagai RAKHMAT dari Allah, tetapi bukan yang main-minan seperti diperingatkan Allah di Q,S, 6: 70 tsb. Juga peringatkan meninggalkan rumah peribadatan yang dusebut di Q.S. 9: 107, 108. Ini peringatan bukan main-main. Sangat amat serius, tetapi orang LATAH tidak pernah menghiraukan peringatan itu. Samapi Allah memperingatakan Nabi Muhammad s.a.w. di Q.S. 6:33, 66. dan terhadap suku bangsanya sendiri disekelilingnya yang amat sangat kemunafikan dan kefasikannya. Q.S. 9: 97 – 101.
    Semoga tulisan ini berguna untuk uamt islam dan umat beragama umumnya. Semoga semua titah selamat bahagia. May all live beings be happy, Mogen alle levende wezens gelukkig ziijn. Semoga semua titah selamat sejahtera. Aaamiiin.

  23. RALAT. Mengunjungi NERAKA bagi orng-orang munafiqdisebut di Q.S. 19: 71. sedang Q.S. 19: 21adalah tentang *tanda kebesaran Allah. * Rakhmat Allah. dan * Ketetapan Allah ( tak akan berubah.) Semoga kekhilafan menulis dengan ini di perbaiki, dibetulkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.